Tanpa Tauhid, Amal Ibadah Tidaklah Bernilai. Muhammad Abduh Tuasikal, MSc November 1, 2009. 8 15,168 4 minutes read. Para pembaca yang semoga selalu mendapatkan taufik dari Allah Taāala. Allah menciptakan kita, tidaklah untuk dibiarkan begitu saja. Tidaklah kita diciptakan hanya untuk makan dan minum atau hidup bebas dan gembira semata.
Artinya: āDan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.ā (Q.S. Al-Insyirah: 8) Makna dari ayat tersebut, yakni ketika kita merasa tersudut sebab tidak ada jalan keluar dari masalah yang dihadapi. Satu-satunya jalan yang bisa kita lakukan adalah berserah diri kepada Allah SWT. Sebab, hanya kepada Allah kita berharap dan memohon
Beribadah kepada Allah dengan penuh kecintaan. Beribadah kepada Allah dengan penuh perendahan diri. Referensi: Syarh Tsalatsah Al-Ushul. Cetakan kedua, Tahun 1426 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-āUtsaimin. Penerbit Dar Tsaraya. Baca juga: Allah Bersama dengan Orang Muhsin; Ihsan dalam Hadits Jibril; Berbuat Ihsan pada Segala Sesuatu ā
Inilah hakekat peribahan kepada Allah yang tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah. Intinya, hati yang bersih adalah hati yang selamat dari berbuat syirik kepada selain Allah dalam bentuk apa pun, bahkan ibadah hanya boleh untuk Allah semata, yaitu irodah (keinginan), cinta, tawakkal, inabah (kembali), tunduk, takut dan rasa harap hanya
Syarhus Sunnah: Memahami Takdir #06. Ada beberapa hal lagi terkait dengan masalah takdir yang perlu diingatkan seperti tidak boleh beralasan dengan takdir untuk berbuat maksiat, manusia masih punya pilihan, lalu hikmah diciptakannya Iblis, dan hikmah adanya musibah. Semoga jadi pelajaran berharga dari bahasan Syarhus Sunnah karya Imam Al-Muzani
Agar ibadah diterima di sisi Allah, haruslah terpenuhi dua syarat, yaitu: Ikhlas karena Allah. Mengikuti tuntunan Nabi shallallahu āalaihi wa sallam (ittibaā). Jika salah satu syarat saja yang terpenuhi, maka amalan ibadah menjadi tertolak. Berikut kami sampaikan bukti-buktinya dari Al Qurāan, As Sunnah, dan Perkataan Sahabat. Daftar Isi
Cukup dengan mengetahui Allah itu Al-Bashiir membuat kita semakin takut berbuat maksiat. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. Referensi: AnāNahju Al-Asmaā fi Syarh Asmaā Allah Al-Husna. Cetakan keenam, Tahun 1436 H. Dr. Muhammad Al-Hamud An-Najdi. Penerbit Maktabah Al-Imam Adz-Dzahabi. hlm. 158-164-167. Fiqh Al-Asmaā Al-Husna
Berprasangka Baik kepada Allah. REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah riwayat dituturkan Imam Al-Ghazali dalam kitabnya, Ihya Ulumuddin Jilid 4 bab al-Khauf wa al-Rajaā, tentang harapan akan ampunan Ilahi bagi seorang Bani Israil yang dimasukkan ke dalam neraka selama 1.000 tahun. Dia terus menjerit memanggil nama Allah.
L87fN.